Selasa, 07 April 2015

Budaya Pahare



Dibawah ini adalah Link untuk Film Dokumenter Budaya Pahare by Juwita Sari
https://www.youtube.com/watch?v=E254gyc3QEI
https://www.youtube.com/watch?v=nF0XCrAq4oU

Terima kasih untuk Juwita Sari karena telah mengupload sebuah film yang sangat bermanfaat dan dapat menambah wawasan tentang budaya pahare. Dan dengan Film tersebut semoga dapat membantu melestarikan salah satu kebudayaan Indonesia. Dan inilah hal yang dapat saya deskripsikan dari film dokumenter diatas:

PAHARE
“PAHARE” merupakan sebuah film dokumenter yang mengangkat tema makna tumpeng dalam Upacara Wuku Taun. Wuku Taun merupakan sebuah bentuk terima kasih warga Kampung Cikondang, Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung terhadap hasil pertanian. Tumpeng sarat akan simbol-simbol kehidupan dan adat istiadat luhur.
Dari video itu pun kami dapat menyimpulkan bahwa Pahare ada sebuah budaya ritual yang penuh kesucian jiwa, raga , tanah, langit, matahari serta manusia sebagai penyangganya bersatu untuk mensyukuri berkah alam.  Budaya pahare ini dalam setiap tahap-tahap pelaksanaanya memiliki cara tersendiri dalam melakukannya, misalnya dari mulai menumbuk padinya pun terdapat upacara atau cara khusus dan sakral masing-masing.
Dalam budaya Pahare terdapat acara lulugu atau acara utamanya, dalam acara ini terdapat tumpeng lulugu, tumpeng pengiring dan sebagainya. Yang disebut tumpeng lulugu (utama) adalah tumpeng untuk acara pokok dan terdapat 3 buah tumpeng yang dibuat khusus di rumah adat cikondang(pokok).
Membuat 3 buah tumpeng pokok inipun khusus dibuat oleh para kaum ibu-ibu yang mereka selama membuatnya itu berpuasa pada 15 Muharram. Tumpeng lulugu ini terdiri dari 3 buah tumpeng yaitu:
-Tumpeng padi huma (ladang) berisi ayam hawuk ( abu-abu )
-Tumpeng padi sawah berisi ayam hideung ( hitam )
-Tumpeng padi ketan berisi ayam bodas ( putih )
            Selanjutnya ada tumpeng pengiring, tumpeng ini diberikan kepada masyarakat yang mengikuti upacara tersebut bahkan masyarakat yang tidak mengikuti upacara tersebut tetap diberikan tumpeng tersebut. Tumpeng pengiring ini jumlahnya lebih dari seratus, ada dua tempat penyimpanan pengiring yakni takir yang memiliki 12 jenis warna, dan susudi memiliki 7 jenis warna. 12 warna tersebut biasanya berisi makanan ringan seperti pisang,tape ketan, tiwu, wajit, ampeang, ampeang borondong,tipung, dodol,opak merah, opak putih dll. Sedangkan 7 warna tersebut berisi tumis cabe gondol , tumis hui, gorengan kasreng(rempeyek), ikan asin, goreng oncom kemplang merah.

            Tumpeng itu sendiri berbentuk segitiga karena mempunyai makna tersendiri , yakni memiliki 3 sudut (tri tangtu) yang berarti tuhan-alam-manusia. Sebelum makan tumpeng mereka mengawali dengan berdoa memberi puji-pujian kepada Allah atas keberkahan yang telah dilimpahkan kepada masyarakat. Dan arti dari pahare itu berasal dari kata pare yang artinya padi. Karena makanan sehari-hari mereka adalah padi, pahare mengandung makna kebersamaan yang berarti makan bersama sebagai bentuk syukur kepada tuhan yang maha esa atas karunia yang telah diberikan kepada masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar